Arsip Blog

Senin, 15 Oktober 2012

Makalah Fiqh



I.         PENDAHULUAN
  Dalam perjalanan dan perkembangannya fiqih Islam telah mengalami zaman gemilang dengan munculnya beberapa mujtahid dan fuqaha’ besar yang memiliki peranan penting dalam membangun kemajuan dan kesempurnaan fiqh Islam. Mazhab fiqh itu sangat banyak dan beragam, namun bukan berarti syari’at Islam akan terpecah-pecah. Tetapi mazhab fiqh akan menjadi gambaran tentang urusan agama atas dasar ilmu dan ijtihad yang diperkuat dengan dalil, ekspresi dari sebuah pemahaman yang mendalam tentang tujuan-tujuan syari’at dan sebuah metode aplikatif dalam menafsirkan nash-nash syariat, serta upaya untuk mengungkap ruh perundang-undangan Islam.  

II.      RUMUSAN MASALAH
A.       Apakah pengertian dari Imam mazhab itu?
B.       Bagaimanakah latar belakang terbentuknya Imam mazhab?
C.       Bagaimanakah pemikiran empat Imam mazhab?

III.   PEMBAHASAN
A.       Pengertian Mazhab
Mazhab menurut bahasa merupakan bentuk isim makan dari kata “dzahaba”, artinya jalan atau tempat yang dilalui, sedangkan menurut istilah ulama ahli fiqih, mazhab adalah mengikuti sesuatu yang dipercayai. Lebih lengkapnya pengertian mazhab menurut fiqih adalah hasil ijtihad seorang imam (mujtahid) tentang hukum sesuatu masalah yang belum ditegaskan oleh nash.[1]
Imam mazhab dalam sejarah dikenal ada beberapa jumlahnya, tetapi yang terkenal dan di akui mempunyai otoritas tertinggi serta mempunyai pengikut dan mendapat dukungan dari ulama muslimin sampai sekarang hanya 4 mazhab, yaitu: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali.[2]
B.       Latar Belakang Terbentuknya Imam Mazhab
Pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab, daerah wilayah Islam bertambah luas. Hal itu menyebabkan tersebarnya para sahabat dan tabi’in ke berbagai kota untuk menjadi hakim dan mufti. Walaupun di kala itu masyarakat telah mempunyai kebudayaan lain, namun para fuqaha dapat pula menimbulkan pengaruh baru. Hal itu yang melatar belakangi adanya dua penyebab perkembangan fiqh di daerah –daerah itu, pertama lingkungan dan kedua sistem yang ditempuh oleh fuqaha dalam memberikan dan membentuk hukum. Oleh karenanya, kota yang didiami sahabat itu, merupakan suatu madrasah yang mempunyai corak sendiri.
Madrasah itu dalam kenyataannya mempunyai dua saluran yang berbeda:
1.      Madrasah Hadits yang sifatnya membatasi diri dengan sekedar yang ada di dalam nash. Panji-panjinya dipegang oleh ulama Hijaz terutama oleh ulama-ulama Madinah.
2.      Madrasah Ra’yu yang sifatnya menyelami keadaan masyarakat dan meneliti illat-illat causalita hukum. Panji-panjinya dipegang oleh ulama-ulama Irak, teristimewa ulama-ulama Kufah. [3]

C.       Pemikiran Empat Imam Mazhab
1.        Madzhab Hanafi
Penyusun mazhab Hanafi adalah Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit bin Zutha At-Tamimiy, lahir di Kufah tahun 80 H dan wafat di Baghdad pada tahun 150 H. Beliau belajar di Kufah, dan di sanalah beliau mulai menyusun mazhabnya. Kemudian beliau duduk berfatwa mengembangkan ilmu pengetahuan di Baghdad. Beliau memberikan penerangan kepada kaum muslimin, sehingga beliau terkenal dengan seorang alim yang terbesar di masa itu, mahir dalam ilmu fiqh serta pandai meng-istimbat-kan hukum dari Al-Qur’an dan hadis.[4]
Imam Abu Hanifah berguru pada seorang ulama terkemuka pada zamannya, yaitu Hammad bin Sulaiman yang merupakan guru paling senior bagi Imam Abu Hanifah dan banyak memberikan pengaruh dalam membangun mazhab fiqhnya. Hammad bin Sulaiman belajar fiqh dari Ibrahim An-Nakha’i yang pernah belajar dengan Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat terkemuka yang dikenal memiliki ilmu fiqh dan logika yang mumpuni.
Pada mulanya Imam Abu Hanifah giat menghafal Al-Qur’an, seperti halnya kebanyakan orang-orang yang taat agama pada zaman ini, dan setelah hafal Al-Qur’an beliau menghafal sunnah untuk memperbaiki agamanya. Setelah Hammad bin Sulaiman meninggal pada tahun 120 H, beliau duduk menggantikan sang guru dalam majelis kajiannya. Gaya pengajaran Imam adalah dengan cara dialog dan tidak hanya bersifat penyampaian, namun terkadang beliau juga memberikan pertanyaan seputar fiqh kepada murid-muridnya, kemudian berdialog.
Imam Abu Hanifah memiliki banyak murid, diantaranya adalah Abu Yusuf, Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani, dan Zufar bin Al-Huzail. Adapun manhaj Imam Abu Hanifah dalam meng-istinbath hukum adalah sebagai berikut:
a.    Al- Qur’an, yang merupakan sumber utama syari’at.
b.    Sunnah, sebagai penjelas kandungan Al-Qur’an.
c.    Pendapat sahabat, mereka dianggap yang membawa ilmu Rasulullah, karena mereka hidup pada satu zaman dengan Rasulullah.
d.   Qiyas,beliau menggunakannya ketika tidak ada nash Al-Qur’an atau sunnah atau ucapan sahabat.
e.    Al-Ihtisan
f.       Ijma’
g.    Al‘Urf
Mazhab Hanafi tersebar ke berbagai negeri diantaranya Irak, Mesir, Baghdad, dll. Hal itu karena beberapa hal, di antaraya:
a.    Banyaknya murid Abu Hanifah yang menyebarkan dan menjelaskan tentang mazhab ini.
b.    Dijadikan sebagai mazhab resmi 8 Dinasti Abbasiyah.
c.    Pengangkatan Abu Yusuf sebagai hakim di Baghdad oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid.
d.   Perhatian para fuqaha’ mazhab dalam menyebarkan mazhab mereka dengan cara menggali illat dan menerapkannya dalam berbagai permasalahan yang muncul.[5]
Imam Hanafi juga meriwayatkan beberapa kitab, diantaranya adalah kitab Masa-ilun-Nawadir, Dlahirur-Riwayah, dan Al-Fatawa wal-Waqi’at.[6]
2.        Madzhab Maliki
Nama penyusunnya adalah Malik bin Anas Al-Asbahi. Beliau dilahirkan tahun 93 Hijriah (721 Masehi) dan wafat dalam bulan Safar tahin 170 Hijriah. Beliau belajar di Madinah dan di sanalah beliau menulis kitab Al-Muwatta, kitab hadis yang terkenal sampai sekarang.[7]
Imam Malik sudah hafal Al-qur’an dalam usia yang sangat dini, belajar dari Rabi’ah Ar-Ra’yi. Baliau mengawali pelajarannya dengan menekuni ilmu riwayat hadis, mempelajari fatwa sahabat dan dengan inilah beliau membangun mazhabnya. Beliau sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu apa pun, padahal beliau bukan termasuk orang kaya.
Imam Malik mendapatkan ilmu fiqh dan sunnah dari para gurunya, diantaranya Abdurrahman bin Hurmuz, Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhriy, Abu Az-Zannad, Abdullah bin Dzakwan, Yahya bin Sa’id, dan Rabi’ah bin Abdirrahman. Beliau mempunyai banyak murid, di antaranya yang terkemuka ialah Muhammad bin Idris bin Syafi’i, Al-Laisy bin Sa’ad, Abu Ishaq Al-Farazi. Mazhab maliki tersebat di negeri Hijaz, Mesir, Tunisia, Aljazair dan Maroko, Torablus dan Sudan, dan dominan di Bashrah dan Baghdad dari waktu ke waktu.
Dalam kitab Al-Muwaththa’, dapat disimpulkan bahwa dasar mazhab Imam Malik adalah:
a.       Kitab Suci Al-Qur’an,
b.      Sunah Rasul,
c.       Amalan penduduk madinah,
d.      Fatwa sahabat,
e.       Qiyas, al-mashalih al-mursalah, dan istihsan,
f.          Sadd adz-dzara’i,
g.      Al-‘Urf (adat istiadat).[8]

3.        Mazhab Syafi’i
Penyusun dari mazhab ini adalah Muhammad bin Idris bin Syafi’i, keturunan bangsa Quraisy. Beliau dilahirkan di Khuzzah tahun 150 H, dan wafat di Mesir tahun 204 H.[9]
Imam Syafi’i melakukan perjalanan ke negeri-negeri, yang semakin menambah pengetahuan beliau tentang keadan penghidupan dan tabiat manusia. Setelah ayahnya wafat, ibunya membawanya ke Palestina, ketika berusia 10 tahun, Imam Syafi’i dan ibunya pergi ke Makkah.
Imam Syafi’i adalah anak yang cerdas dan cemerlang, selalu giat belajar ilmu-ilmu keislaman yang asasi. Beliau belajar Al-Qurr’an dan tamat menghafalkannya pada usia menjelang tujuh tahun. Ketika usia lima belas tahun beliau telah hafal seluruh isi kitab Al-Muwatha’, yaitu buku hadist dan fiqh karangan Imam Malik.
Imam Syafi’i mempelajari hukum Islam di bawah bimbingan seorang ulama, Muslim al-Khalid al-Zanji, Mufti Makkah, dan Sufyan bin Uyaainah.setelah itu beliau meninggalkan kota Makkah menuju Madinah untuk belajar keada Imam Malik. Beliau melanjutkan pelajarannya bersama Imam Malik di usianya yang kedua puluh tahun. Beliau melanjukan perjalanannya ke irak kemudian ke Mesir dan meninggal di Mesir.[10]
Imam Syafi’i memiliki banyak murid di berbagai negara, karena beliau sering melakukan perjalanan dalam mencari ilmu. Diantara murid beliau di Irak adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Murid beliau yang di Mesir adalah Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya Al-Buthi.
Imam Syafi’i juga telah menulis beberapa kitab dalam bidang ushul fiqh, diantaranya adalah kitab ar-risalah dan al-mabsuth. Dalam menetapkan fiqhnya Imam As-Syafi’i menggunakan lima sumber yaitu:
a.    Nash-nash yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.
b.    Ijma’
c.    Pendapat par sahabat.
d.   Qiyas.
Mazhab Syafi’i tersebar di negeri Irak, karena di sanalah pertama kali mazhab ini muncul. Mazhab ini juga tersebar di Mesir karena beliau pernah tinggal di sana sampai akhi hayatnya. Mazhab ini juga dipaluk oleh para penduduk muslim di kawasan Khurasan, Palestina, Hadramaut, Persia, dll. Diantara penyebab tersebarnya adalah kitab-kitab yang pernah ditulis beliau, majelis ilmunya, dan perjalanannya ke berbagai negeri.[11]
4.        Mazhab Hanbali
Penyusunnya adalah Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Asy-Syaibani. Beliau lahir di Baghdad pada tahun 164 H dan wafat di tempat yang sama pada tahun 241 H.[12]
Imam Ahmad sudah mulai belajar Al-Qur’an sejak masa kecil, belajar bahasa Arab dan hadis, riwayat para sahabat dan tabi’in dan sudah terlihat tanda kecerdasan sejak usianya masih kanak-kanak, selain itu juga tekun dalam belajar. Beliau belajar hadis dari para ulama yang ada di Baghdad. Kemudian setelah beliau berusia 16 tahun, barulah berangkat merantau untuk mencari ilmu ke luar kota dan ke luar negeri , seperti Kufah, Bashrah, Syam, Yaman, Jazirah, Makkah, dan Madinah.
Para guru Imam Ahmad, yaitu antara lain: Imam Ismail bin Aliyyah, Hasyim bin Basyir, Hammad bin Khalid, Manshur bin Sulamah, Mudhaffar bin Mudrik, Utsman bin Umar, dan Masyim bin Qasim. Imam  Ahmad mendirikan mazhabnya di atas lima dasar sebagai berikut:
a.    Nash Al-Qur’an dan sunnah.
b.    Fatwa sahabat yang tidak ada penentangnya.
c.    Jika para sahabat berbeda pendapat maka beliau akan memilih salah satunya jika sasuai dengan Al-Qur’an dan sunnah, dan tidak mencari pendapat orang lain.
d.   Menggunakan hadis mursal dan hadis dhaif.
e.    Qiyas.
Kitab-kitab karangan Imam Ahmad, antara lain: Al-Musnad, Tafsir Al-Qur’an, Kitab An-Nasikh wal-Mansukh, Kitab Al-Muqaddam wal-Muakhkhar fil Qur’an, Kitab Jawabatul Qur’an, Kitab At-Tarikh, Kitab Al-Manasikul Kabir, Kitab Al Manasikus Shagir, Kitab Tha’atur Rasul, Kitab Al-Illah (Al-Illal), Kitab Al-Wara’i, dan Kitab Ash-Shalah.
Adapun orang yang pertama menyebarkan mazhab Imam Ahmad adalah putranya yang bernama Shalih bin Ahmad bin Hanbal (wafat 266 H). Beberapa murid Imam Ahmad yang bergiat menulis mazhab dan menyebarkannya antara lain:
a.    Abu Bakar Al-Asyram (wafat 216 H),
b.    Abdul Malik Al-Maimuni (wafat 274 H),
c.    Abu Bakar Al-Marwaruzi (wafat 275 H),
Mazhab Hanbali tersebar di berbagai negeri Islam, antara lain: Irak, Mesir, Semenanjung Arab, dan Syam. [13]
IV.   SIMPULAN
Dari pembahasan dalam makalah Imam mazhab ini dapat disimpulkan sebagai berikut:           
A.        

V.      PENUTUP
                   Demikianlah makalah ini kami buat, semoga dapat menjadi tambahan pengetahuan sejarah tentang Imam mazhab. Dalam makalah ini kami hanya membatasinya pada mazhab-mazhab fiqh dari golongan sunni saja, untuk itu kami sarankan agar pembaca mencari referensi lain untuk menambah wawasan. Kami mohon maaf apabila dalam makalah kami terdapat kesalahan baik dalam segi tulisan, tanda baca, maupun kesalahan lainnya.




















DAFTAR PUSTAKA


Ash Ahiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 1999. Pengantar Ilmu Fiqih. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra.
Doi, A. Rahman I. 2002. Penjelasan Lengkap Hukum-Hukum Allah. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Harjono, Harjono. 1968. Hukum Islam (Kekuasaan dan keadilannya). Jakarta: PT. Bulan Bintang.
Hasan, M. Ali. 2000. Perbandingan Madzhab Fiqih. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Khalil, Munawar. 1983. Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab. Jakarta: PT. Bulan Bintang.
Khalil, Rasyad Hasan. 2009. Tarikh Tasyri’. Jakarta: Amzah.
Rasjid, Sulaiman. 2007. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo.














IMAM MADZHAB


MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah    : Fiqih
Dosen Pengampu : Lutfiyah, M,S.I





Disusun Oleh:
Siti Maimunah                       (103511036)
Nur Syifafatul Aimmah          (113111137)


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012


[1]  M. Ali Hasan, Perbandingan Madzhab Fiqih, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 1.  
[2] Anwar Harjono, Hukum Islam (Kekuasaan dan keadilannya), (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1968), hlm. 59.
[3] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,  Pengantar Ilmu Fiqih, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999), hlm. 100-101.
[4]  H.Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung:Sinar Baru Algensindo, 2007), hlm. 8.
[5]  Rasyad Hasan Khalil, Tarikh Tasyri’, (Jakarta: Amzah, 2009),  hlm.172-178.
[6]  Munawar  Khalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1983), hlm. 75.
[7]  H.Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung:Sinar Baru Algensindo, 2007), hlm. 9.
[8]  Rasyad Hasan Khalil, Tarikh Tasyri’, (Jakarta: Amzah, 2009),  hlm. 182-184.
[9]  H.Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung:Sinar Baru Algensindo, 2007), hlm. 9.
[10] A. Rahman I.Doi, Penjelasan Lengkap Hukum-Hukum Allah, 2002, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, hlm.140-141
[11] Rasyad Hasan Khalil, Tarikh Tasyri’, (Jakarta: Amzah, 2009),  hlm.189-193
[12] Munawar  Khalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1983), hlm. 252.
[13]  Rasyad Hasan Khalil, Tarikh Tasyri’, (Jakarta: Amzah, 2009),  hlm.193-200.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Video Ketika Cinta bertasbih

Loading...

Video Habibi dan Ainun

Loading...

Video Laskar Pelangi

Loading...